Skip to main content

Business Psychology


Assalamualaikum para pembaca blog kuhhhh
Apa kabarrrr???? Semoga kalian semua baik baik aja yaaa hihihi
Sebelum kita masuk ke pembahasan, saya mau sedikit curcol dulu nih, gapapa ya? Gapapa dongggg h3h3h3
Gak terasa udah semester 3 huaaaaa seneng banget omg dan alhamdulillah juga semua matkul lulus deengan nilai yang sangat memuaskan *sombong*
Gak nyangka loh aq ketemu pak Seta lagi di semester iniiii, waktu semester 2 beliau ngajar Psikologi Industri dan Organisasi dan sekarang (semester 3) beliau ngajar Psikologi Bisnis dikelas saya doang hahaha, jadi tuh beliau ngajar anak 2018 Cuma kelas saya doang :’). Yaaa ada seneng nya ada juga duka nya, senengnya tuh karena beliau orangnya baik bangettt, gak pelit sama nilai hehe kalo duka nya tuh tugas nya banyak bangett boook, ngeriview materilah review jurnal lah hadehh mending kalo perkelompok, ini mah tugas individu beb :’) mana deadlinenya mepet2 banget lagi :(
Gapaapa dah tugas banyak nikmatin aja, ambil hikmah nya :’)
Okeee cukup segitu aja curcolnya. Kembali ke laptop!!!!

Kali ini saya akan meriview tentang business psychology.



BUSINESS PSYCHOLOGY



Image result for business


Pernah kah kalian mendengar mengenai Psikologi Bisnis? Lalu, sebenarnya Psikologi Bisnis itu apa sih?  Ilmu apa saja yang dibahas dalam Psikologi Bisnis itu sendiri?
Sebelumnya, psikologi bisnis itu terdiri dari dua kata yaitu Psikologi dan Bisnis. Psikologi merupakan ilmu yang mempelajari perilaku, mental, dan kognisi manusia. Sedangkan Bisnis, adalah segala aktivitas manusia yang dapat menghasilkan profit ataupun non-profit (benefit) guna untuk organisasi berjalan dalam waktu jangka panjang. Jadi, Psikologi Bisnis itu adalah suatu pendekatan teoritik yang menggabungkan ilmu yang mempelajari perilaku, mental dan kognisi manusia dengan ilmu bisnis (manajemen dan economic behavior) dan pengalaman pada dunia kerja untuk mencapai kinerja organisasi yang excellent dan berkelanjutan melalui individu, tim, organisasi, sistem dan IT yang tepat. 

Ilmu yang dibahas dalam Psikologi Bisnis itu sendiri yaitu PIO (Psikologi Industri dan Organisasi), Management, Labor & Behavioral economy (market, industry, makro issues) dan Business (opportunity, plan and execution). Selain itu, ada pula hal yang penting dalam Psikologi Bisnis yaitu Business Psychology Framework, dimana salah satu bagian/unsur dalam framework tersebut akan saya bahas pada kesempatan kali ini, yaitu Teamship.
Sebelumnya, grup dan tim ini merupakan bagian dari organisasi. Karena organisasi terdiri dari sekumpulan orang, terdapat sistem, dan teknologi, dimana di dalamnya 3 hal tersbut saling berinteraksi, kemudian semua hal tersebut diikat oleh values (nilai) dan terbentuk sebuah tujuan. Nah, pasti kita sudah tidak asing lagi mendengar kata Tim dan Grup, namun apakah kalian mengetahui bahwa sebenarnya pengertian dan konsep dari kata Tim dan Grup itu terdapat perbedaan ? Saya pun sebelum mendapatkan mata kuliah psikologi bisnis ini sempat bingung dalam menggunakan kata Tim dan Grup. Berikut saya akan membahas mengenai perbedaan antara dua hal tersebut

Pertama, Tim Kerja. Tim Kerja (Work Team) merupakan kumpulan dari dua orang atau lebih yang saling berinteraksi satu sama lain dan berbagi beberapa tujuan/tugas yang saling terkait. Dalam hal ini berarti Tim kerja memiliki 2 karakteristik yaitu interaksi dan saling keterkaitan. Misalnya, fakultas dalam departmen universitas dikatakan sebagai Tim kerja (work group). Karena anggota fakultas saling berinteraksi satu dengan yang lain dari waktu ke waktu, dan mereka memiliki tujuan yang sama yaitu melibatkan pendidikan mahasiswa. Namun, mahasiswa di fakultas tersebut tidak bisa dikatakan Tim kerja (work team) walaupun mereka saling berinteraksi di kampus, tetapi dari semua mahasiswa di fakultas memiiki tujuan yang tidak saling terkait. Tim kerja kumpulan orang yang bekerja bersama, tetapi tidak dapat bekerja, setidaknya tidak efektif tanpa anggota lain dari tim (Spector, 2012).

Kedua, Grup kerja. Grup kerja (Work Group) merupakan kumpulan orang yang bekerja bersama, tetapi dapat bekerja tanpa salah satu anggota dari kelompok yang tidak ada. Misalnya, mahasiswa yang membuat grup untuk mengerjakan tugas kelompok, walaupun ada satu anggota kelompok tersebut tidak hadir namun pekerjaan mereka masih tetap dapat dilakukan. Jadi, dapat dikatakan semua tim merupakan grup, tetapi tidak semua grup merupakan tim.
Selain itu, ada perbedaan antara Grup/Kelompok dan Tim dalam konteks kerja menurut Stephen P. Robbins, sebagai berikut :

Sebuah tim kerja (work team) merupakan jenis dari grup kerja (work grup), tetapi tim kerja ini memiliki 3 karakteristik/sifat yang spesifik (Spector. E. P, 2012), yaitu :
1.       Tindakan dari setiap individu harus saling terkait dan dikoordinasikan
2.       Setiap anggota harus memiliki peran tertentu
Yaitu masing-masing anggota memahami perannya masing-masing, bertanggung jawab atas wewenang yang telah diberikan
3.       Harus memiliki tujuan/tugas umum dan bersifat objektif
Yaitu setiap tujuan atau sasaran yang ingin dicapai jelas dan mudah dipahami oleh setiap anggotanya 

Sedangkan, grup kerja (work group) memiliki 4 karakteristik (McKenna, 2012), yaitu :
1.       Norms
Yaitu mengatur hubungan antara individu di dalam kelompok tertentu, dan faktanya mereka diarahkan untuk terbiasa pada sejumlah masalah dari bagaimana mereka menyelesaikan masalah dan kecepatan dalam menyelesaikan masalah tersebut (Blau, 1995).
2.       Cohesiveness
Kekompakan yang mungkin terjadi karena adanya perjanjian yang ditepati oleh antar anggota dalam kelompok yang berhubungan dengan nilai-nilai  dan keyakinan tertentu.
3.       Cohesiveness  dan productivity
Hubungan diantara kekompakan dan produktivitas semakin kompak suatu grup maka tingkan produktivitasnya akan semakin tinggi. Dan tingkat ke produktivitasanya dalam rapat akan semakin baik, itu penting untuk mencapai tujuan grup untuk menyesuaikan terhadap tujuan atau goals dari organisasi.
4.       Communication and interaction
Yaitu dalam sebuah kelompok kerja akan tetap terjadi komunikasi atau mereka dalam anggota yang sama tetap berinteraksi. Dari komunikasi akan menimbulkan saling keterbukaan satu sama yang lain.

Proses terjadinya Grup dan Tim menurut Tuckman (2000), yaitu :
1.       Forming
Yaitu dimana kelompok/tim mulai terbentuk. Kondisi yang terjadi adalah ketidakpastian diantara anggota lainnya, setiap anggota masih bertanya-tanya mengapa dibentuk sebuah kelompok/tim
2.       Storming
yaitu masing-masing anggota dalam kelompok/tim ini berusaha untuk menyesuaikan dengan kondisi, nilai-nilai, sistem-sistem, dan kepercayaan. Namun, pada tahap ini bisa terjadi dua kemungkinan yaitu perpecahan atau penyatuan
3.       Norming
Yaitu konflik mulai reda, berusaha untuk membuat visi dan misi yang sama dan bersifat objektif. Pada tahap ini kelompok/tim semakin kohesif
4.       Performing
Yaitu setiap anggota mulai menyesuaikan diri dengan visi dan misi yang dibuat oleh kelompok. Setiap anggota dapat menyelesaikan masalah sendiri dan kembali pada tujuan awal yang disepakati sebelumnya
5.       Adjoining
Yaitu pada tahap ini bagi kelompok/tim yang merasa puas akan bahagia atas prestasinya namun cenderung akan lupa dengan tujuan awalnya dan tidak mempertahankannya.

Jadi, setelah dibahas mengenai perbedaannya maka dapat disimpulkan bahwa tim kerja (work team) merupakan suatu kumpulan orang yang saling bekerja sama, keterkaitan, berkoordinasi dan saling berinteraksi. Sedangkan grup kerja (work grup) merupakan sekumpulan orang yang bekerja sama untuk mencapai tujuan dan saling berbagi informasi serta berinteraksi. 




Dalam psikologi bisnis kita mempelajari tentang leadership, kelompok, organisasi sama seperti di pio hanya saja mencakup luas.
Dalam psikologi bisnis 4 pilar yaitu:

Ø  Strategi
Strategi dalam berbisnis penting sekali untuk rencana berupa konsep yang sengaja dibuat untuk mencapai tujuan jangka panjang perusahaan. Strategi merupakan kunci dari pencapaian keunggulan bersaing dan keberhasilan sebuah bisnis.
Ø  Buisnees
Bisnis tidak terlepas dari aktivitas produksi, pembelian, penjualan, maupun pertukuran barang dan jasa yang melibatka orang maupun perusahaan. Aktivitas tersebut (bisnis) punya tujuan menghasilkan laba untuk kelangsungan hidup serta mengumpulkan dana yang cukup bagi si pelaku bisnis itu sendiri (Fuad,Chirsti,Nurlela,Sugiarto,Paulus).

Bisnis juga terdapat 4 prespektif yaitu yang disebut BSC (Balance Scorecard) adalah metode pengukuran hasil kerja yang digunakan oleh perusahaan.


Customer adalah seorang pembeli atau pelanggan yang menerima baranng dan jasa dari individu atau organisasi, setelah itu dari customer ke learning dan berkembangan bagaimana produk atau perusahaan harus memperbaiki dari ulasan customer agar produk bisa di terima kalangan masyarakat, lalu prosesnya dan sistem juga harus di tingkatkan sesuai dengan perkembangannya perusahaan  aspek finicial juga harus seimbangan antara internal dan eksternal.
Ø  Bahavaiol economy
Bukan hanya perilaku manusia yang berpikir soal uang atau keuntungan, tetapi bagaimana cara agar mampu melakukan kegiatan ekonomi seperti produksi, distribusi dan komsumsi baik itu individu atau pun organisasi. Dalam memalukan kegiatan tersbut terdapat dua syarat yaitu: Efesien dan Efektif
1.      Efesien apa bila dalam memperoduksi dll, semua bagian dalam memproduksi tau fungsinya masing – masing dan tidak banyak melibatkan banyak orang
2.      Efektif waktu dan memproduksi sehingga waktu tidak terbuang sia-sia dalam memproduksi, jika produksi cepat diselesai maka akan cepat pula sampai ke customer.


Ø  PIO
Psikologi industry dan organisasi dan psikologi bisnis sama sama saling terikat menjadi satu didalam bisnis terdapat pio yang sama dengan behavariol economy kerana pio mempelajari rekrutmen, seleksi dan pelatihan.

Business Psychology Framewok
Organization Direction and philosophy terdapat tiga Human capital lalu mencakup yang lebih banyak yaitu organizational capital sehingga mampu memproduksi barang atau pun jasa, agar ini tetap bisa berjalan degan baik diperlukan sutainable business Excellence yang di dukung oleh competitiveness (daya saing) dan human wellbeing (manusia sejahtera). Setah semua di jalankan tetap harus di ladasi dengan innovating dan learning.
Yang di maksud well Being harus mencakup 5 yaitu
1.connect = mampu berkomunikasi dengan orang walaupun dia seorang introvert
2. be active = ingin menjadi seseorang yang aktif dalam berbagai aspek
3. give = selalu ingin memberikan dan menolong sesama mahluk hidup
4. take notice = seseorang selalu mempedulikan dan memperhatikan keadaan di sekelilingnya
5. keep learning = seseorang  yang well being akan terus menurus belajar.


Semoga bermanfaat untuk teman-teman semua.


Wassalamuallaikum wr. wb 



REFERENSI

Bachroni, M. (2011). Pelatihan pembentukan tim untuk meningkatkan kohesivitas tim pada kopertis V Yogyakarta. Jurnal Psikologi, 38(1), 40-51. Retrieved from https://journal.ugm.ac.id/index.php/jpsi/article/viewFile/7663/5941

McKenna, Eugene. (2012). Business Psychology and Organizational Behaviour (5th ed.). New York, NY: Psychology Press  

Spector, P. E. (2012). Industrial and Organizational Psychology: Research and Practice (6th ed.). USA: John Wiley & Sons

Fuad, Chiristine, Nurlela., sugiarto, Paulus., (2000)., Pengantar Bisnis Pt.Gramedia Pustaka Utama

Wicaksana, S.A., Power Point Business Psychology (concept and practices).

Comments

Popular posts from this blog

journal Review : Emotional intelligence competencies in engineer’s effectiveness and engagement

JOURNAL REVIEW : Emotional intelligence competencies in engineer’s effectiveness and engagement Hiiii how’s it going??? in today’s  post , Imma review Emotional intelligence competencies in engineer’s effectiveness and engagement journal. Hope this helps! THE MEANING OF EI AND WORK ENGAGEMENT Emotional Intelligence According to Dr Goleman, ’emotional intelligence is defined as a set of skills or competencies, which provide human resource professionals, managers, and anyone in the world of work, with a comprehen­sive tool to define, measure and develop emotional skills’. Emotional intelligence can also be defined as the capacity to recognize our own feelings and those of others for motivating ourselves and managing emotions well in our social interactions. Work Engagement Work engagement is most often defined as "...a positive, fulfilling, work-related state of mind that is characterized by vigor, dedication, and absorption" (Schaufeli & Bakker, ...

EQ (Emotional Quotient)

Hi guys!! How's it going? I used to write this blog in Bahasa but now I'm gonna change it to English or maybe Englonesian (English-Indonesian) The reason why I change it to English is because I want to improve my English skill :P English is not my mother tongue, please excuse any errors on my part I will try my best. What is EQ/ Emotional Quotient? For most people, emotional intelligence (EQ) is more important than one’s intelligence (IQ) in attaining success in their lives and careers. As individuals our success and the success of the profession today depend on our ability to read other people’s signals and react appropriately to them. Therefore, each one of us must develop the mature emotional intelligence skills required to better understand, empathize and negotiate with other people — particularly as the economy has become more global. Otherwise, success will elude us in our lives and careers. “Your EQ is the level of your ability to understand other pe...